mengapa kita merasa waktu berjalan lebih cepat seiring bertambahnya usia
Pernahkah kita merasa kalau liburan sekolah zaman SD dulu rasanya panjang sekali? Satu bulan liburan terasa seperti satu babak kehidupan epik tersendiri. Kita bisa bermain sepeda, belajar berenang, menonton kartun, dan rasanya hari tidak kunjung sore.
Tapi coba perhatikan apa yang terjadi belakangan ini. Tiba-tiba kita sudah berada di penghujung tahun lagi. Rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru dan membuat resolusi yang entah sudah jalan atau belum. Kenapa waktu seolah-olah punya pedal gas yang makin lama makin diinjak saat kita makin tua? Ini bukan sekadar perasaan melankolis semata, teman-teman. Ada mesin rumit di dalam kepala kita yang sedang bermain sulap.
Mari kita mulai dari penjelasan matematis yang paling klasik. Di akhir abad ke-19, seorang filsuf bernama Paul Janet merumuskan apa yang disebut sebagai teori proporsionalitas. Konsepnya sangat logis dan sederhana.
Bayangkan saat kita baru berumur lima tahun. Satu tahun bagi anak usia lima tahun adalah dua puluh persen dari seluruh hidupnya. Itu adalah porsi waktu yang sangat masif! Tapi saat kita berumur lima puluh tahun, satu tahun hanyalah dua persen dari total hidup kita. Otak kita secara natural membandingkan waktu yang sedang berjalan saat ini dengan total waktu yang sudah kita lewati. Proporsinya semakin mengecil, sehingga rasanya cepat berlalu. Penjelasan ini masuk akal, bukan? Tapi mari kita jujur, matematika saja tidak cukup untuk menjelaskan sensasi fisik dari waktu yang seolah melesat kabur dari genggaman.
Coba kita ingat-ingat lagi cara kita melihat dunia sewaktu kecil. Saat itu, dunia adalah tempat yang sepenuhnya asing. Kita belajar mengeja, melihat jenis serangga baru di taman, sampai merasakan patah hati pertama. Otak kita bekerja sangat keras merekam setiap detail asing ini.
Nah, pertanyaannya, bagaimana tepatnya cara otak merekam waktu? Apakah otak kita punya semacam jam saku internal yang terus berdetak mengatur ritme hidup? Lalu, apa yang terjadi pada "jam" itu ketika pembuluh darah dan jaringan saraf kita mulai menua seiring bertambahnya usia? Apakah ada hubungannya dengan seberapa sering mata kita berkedip dan bergerak memperhatikan sekitar? Jawabannya ternyata tersembunyi di perpotongan yang indah antara ilmu fisika, cara kerja mata, dan kabel-kabel listrik di dalam kepala kita.
Ini dia rahasia besarnya. Profesor Adrian Bejan, seorang peneliti fisika dari Duke University, menemukan bahwa persepsi waktu kita sebenarnya sangat bergantung pada seberapa banyak gambar atau frame visual yang diproses oleh otak.
Otak kita merekam dunia melalui pergerakan mata cepat yang disebut saccades. Saat kita masih muda, jaringan saraf kita masih segar, jalurnya pendek, dan sinyal listrik mengalir sangat cepat. Di masa kanak-kanak, kita memproses ribuan frame per detik dengan sangat detail. Otak kita dibanjiri informasi visual yang padat, sehingga satu hari terasa sangat panjang dan penuh.
Namun seiring bertambahnya usia, tubuh kita berubah. Jaringan saraf kita bertumbuh makin panjang, makin bercabang kompleks, dan perlahan mulai mengalami penuaan. Jalur kelistrikan di otak butuh waktu lebih lama untuk mengantarkan sinyal. Hasilnya? Frame rate atau kecepatan otak kita dalam memproses gambar menurun drastis.
Kalau waktu kecil kita hidup seperti video resolusi tinggi dengan 60 frame per detik, di usia dewasa kita mungkin cuma merekam 30 frame per detik. Karena jumlah memori gambar yang terekam lebih sedikit dalam rentang waktu yang sama, otak kita mengambil kesimpulan logis: waktu pasti berjalan lebih cepat. Ditambah lagi, hidup orang dewasa biasanya penuh dengan rutinitas yang itu-itu saja. Bangun, bekerja, pulang, tidur. Karena tidak ada informasi visual yang baru atau mengejutkan, otak kita malas memproses dan memilih untuk menekan tombol fast forward.
Mengetahui fakta biologi ini sebenarnya memberi kita sebuah kekuatan yang melegakan. Kita memang tidak bisa menghentikan laju penuaan fisik, tapi kita sangat bisa meretas persepsi waktu kita sendiri.
Bagaimana caranya? Kita harus memaksa otak untuk kembali merekam lebih banyak frame. Kita harus menghancurkan rutinitas. Belajarlah keterampilan baru, ambil rute yang berbeda saat berangkat kerja, baca buku dari genre yang tidak pernah kita sentuh, atau pergilah ke tempat yang belum pernah kita kunjungi.
Saat kita menyajikan hal-hal baru pada otak, kita memaksanya untuk kembali bekerja ekstra dan mencatat setiap detail dengan awas, persis seperti saat kita masih kecil. Pada akhirnya, waktu tidak pernah benar-benar berlari meninggalkan kita. Kitalah yang mungkin terlalu sering berjalan dengan mata tertutup oleh nyamannya rutinitas. Mari kita ciptakan momen-momen baru yang mengejutkan, teman-teman. Karena di dalam kebaruan itulah, kita bisa membuat waktu terasa berdetak sedikit lebih lambat, memberi kita ruang untuk benar-benar menikmati hidup.